Tadi sore aku naik kereta ekspres pulang kerumah. Padat dan berdesakan adalah ciri khasnya, jadi yowes nikmati aja :) Ketika kereta tiba, aku mendapati gerbong yang tidak ada bantuan stepnya, jadi harus butuh bantuan tangan orang yang di pintu kereta untuk menarik aku untuk naik ke atas.
Ketika aku udah tiba diatas, aku melihat ada sepasang suami istri kira-kira usia 65an yang sedang berusaha naik keatas juga. Mereka diperlakukan sama.. lengan-lengan menjulur membantu menarik mereka keatas. Si ibu terhimpit – karena postur tubuhnya juga mungil-kalah sama yang gede2 disekitarnya. Di sepanjang jalan, aku melihat si Ibu berpegang erat pada lengan si Bapak - yang aku lihat sih lengan itu jauh dari kata kekar, malahan kulitnya nampak hitam karena terbakar matahari, dan keriput di tangannya sepertinya mampu menceritakan sekeras apa hidup yang telah ia lalui. Kereta terguncang, si Ibu semakin mengeratkan kedua tangannya memegang lengan suaminya. Aku melihat tangan kiri si Bapak menepuk-nepuk tangan Ibu yang sedang memegang lengan kanannya, mungkin si Bapak mengisyaratkan untuk 'jangan khawatir kamu akan baik-baik saja'. Kereta belok ke kanan penumpang pun ikut oleng ke kanan dan aku mendapati Ibu kehilangan keseimbangan dan semakin terhimpit dibawah ketiak orang-orang. Bapak menarik pundak si Ibu dan berusaha mengembalikan Ibu pada posisi sebelumnya. Kali ini si Ibu sudah berada di rangkulannya dan ia mendekap Ibu dengan tangan kanannya dimana tangan kirinya mencari pegangan untuk mengatur keseimbangan. Aku perhatikan wajah si Ibu terlihat tenang. Wajah yang mengekspresikan rasa bahwa aku aman dan terlindungi. Sayang kejadian ini hanya bisa aku nikmati dalam 10 menit saja, karena stasiun tujuanku sudah sampai.
Meski sebentar, dalam 10 menit itu aku mendapatkan pemandangan yang luar biasa menginspirasi, yang membuatku berpikir dan berdoa ’ya Tuhan semoga aku dan suamiku bisa seperti mereka. Usia boleh semakin tua.. tapi kasih kami tetap muda dengan demikian rasa sayang, rasa melindungi dan rasa saling membutuhkan itu tetap hidup sampai kematian memisahkan kami berdua’.
God Bless you Pak dan Bu, what a wonderful 10 minutes.
God Bless you Pak dan Bu, what a wonderful 10 minutes.

No comments:
Post a Comment