Jakarta, 7 January 2011 - Pesawat GA 128 Pukul 09.10 WIB membawa kami (aku dan mamaku) terbang selama 51 menit di udara. Waktu yang cukup singkat untuk mencapai pulau ini dari Jakarta. Seharusnya dengan durasi yang singkat ini membuatku lebih sering berkunjung ke sini, ke pulau seribu kenangan, pulau masa kecilku, pulau kelahiranku, my land of birth, Pulau Bangka. Thanks God perjalanan kami begitu lancar. Sambil menikmati snack box sajian yang berisi aqua 120ml, mix peanut, kit kat dan roti, aku dan Mamau saling bercengkerama.. bernostalgia.. dan tertawa. Banyak kenangan yang indah dan juga sedih di pulau ini yang diceritakan oleh mamaku, yang sebagiannya aku sudah tau tapi banyak juga yang baru kuketahui.
Ketika mendarat, suasana tenang dan nyaman Bandar udara Depati Amir menyambut kami. Bandara yang sepi, hanya satu pesawat yang ada disana - GA 128, pesawat yang tadi kami tumpangi. Bandara yang tidak terlalu luas dan melihat landasan pacu yang ternyata tidak terlalu panjang membuat kami menyadari bahwa proses landing tadi adalah sangat baik.
Tanpa niat merepotkan kerabat dan kenalan lama, kami segera mencari counter agen penginapan ataupun perjalanan wisata. Berhubung ruang didalam bandara tidak terlalu luas, kami segera menemukan satu counter perjalanan wisata persis sebelum pintu keluar. Ternyata counter ini hanya menawarkan jasa taxi yang juga bisa mengantarkan anda mencari penginapan sesuai dengan yang anda butuhkan. Disini taxi resminya tidak pakai argo, sudah ada pricelist yang mematok harga berdasarkan tujuan dan waktu. Kebetulan tujuan kami adalah ke pusat kota Pangkalpinang dan taxi ini bersedia mengantarkan kami sampai menemukan tempat penginapan dengan biaya Rp.50.000,-
Singkat cerita, setelah diantar ke beberapa opsi penginapan, kami memutuskan untuk menginap di Penginapan Bukit Sofa di Jl. Mesjid Jami No. 43 Pangkalpinang, persis seberang Mesjid Jami, mesjid terbesar di Pangkalpinang. Penginapannya sih tidak terlalu mewah, bisa dibilang sekelas losmen, dengan biaya cuma Rp. 150.000,- / malam, tapi fasilitasnya cukup lumayan seperti TV, AC, kamar mandi dalam, spring bed, dan terutama BERSIH. Sepertinya cukup, dan tidak berkespektasi lebih karena biayanya pun hanya sekian hehe. Kami memilih penginapan ini adalah karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan pasar kota, pusat jajanan bangka, dan ramai dilalui angkutan kota.
Seharian kuhabiskan waktuku bersama mamak, curhat cerita dari A-Z. How I love that moment. Ini adalah dating between mom and daughter. Mamaku punya kerinduan untuk berbagi cerita berdua bersamaku, merindukan masa-masa dimana aku menjadi putri yang dekat dengannya, dan menjadikan mamaku sebagai tempat untuk bercerita. Ya, tentang banyak hal, antara hati ke hati, perempuan dan perempuan, mama dan putrinya, juga rahasia hati yang selama ini terkunci rapat.
Ku akui ini merupakan moment yang sangat mengharubiru terjadi disini, di kamar kecil ini. Bagaimana tidak, aku bersama orangtuaku bisa dikatakan hanya sampai dengan SMP. Pada saat SMA - berhubung SMA ku berasrama, aku tinggal di Asrama dan pulang ke kampung hanya sekali sebulan, atau pun saat liburan sekolah. Selesai SMA aku lanjut kuliah ke Bandung, yang membuat intensitas pertemuan kami hanya sekali setahun, dan komunikasi yang terbatas dengan pulsa. Selesai kuliah, aku lanjut migrasi ke Ibu Kota Jakarta untuk mengadu nasib. Masih bernasih sama, pertemuan kami pun bisa dikatakan hanya setahun sekali. 4 tahun berselang setelah kelulusanku, aku menikah, tinggal di Jakarta dan ya, kali ini malah mungkin hanya bertemu 1 kali dalam 2 tahun. Pun demikian komunikasi kami tetap ada meski tanpa tatap muka. Menikah selama 3th tetapi belum memiliki momongan membuat mamaku merasa iba terhadapku. Mamaku tidak percaya bahwa aku se'baik' yang aku kabarkan, se'bahagia' yang aku ceritakan, dan se'tegar' seperti yang aku tunjukkan. Aku memang typikal orang yang menyimpan rapat perasaanku dan menunjukkan yang baik2 saja kepada oranglain, terutama orangtuaku. Aku tidak mau membuat mereka khawatir, aku tidak mau membuat mereka resah, gelisah dan sakit. Aku ingin mereka sehat, panjang umur, dan lebih lama lagi bersama kami. Memang tidak ada yang lebih mengerti kita ketimbang orangtua kita, terlebih mama. Dia kenal kita, dia tau karakter kita, dan dia ingin turut campur tangan membersihkan hati kita, mengusap airmata kita, mengelus rambut kita, memegang tangan kita, dan memeluk kita sembari berkata 'semua akan baik-baik saja'.
Aku tau dalam hati mama meskipun tidak dia ungkapkan, dia berkata "Tidak perlu berubah anakku, tidak perlu menutup2i hatimu, bukakan saja itu untuk mama, mama akan dengar, mama akan pegang kamu, mama akan usap airmatamu. Sedihmu adalah sedihku, lukamu adalah lukaku, pergumulanmu adalah pergumulanku, tangismu adalah tangisku, bagikan buat mama, kita hadapi ini bersama".
Dengan gaya bahasa mamaku - seorang guru - aku pun luluh. Aku menceritakan banyak hal yang kusimpan didalam hati kepada mamaku. kesedihanku, pergumulanku, rasa lelahku, kekawatiranku, sukaku, dukaku, kecemasanku, dan semuanya. Sungguh susah melepaskan ini semua satu persatu dalam kalimat yang rapi dan teratur, entah mengapa semua terwakili dengan tangisan dan airmata. Disini, di kamar kecil ini, dinding yang dingin menjadi mata dan telinga momen haru dan bahagia ini. Ada rasa yang mengganjal pada mulanya, ketika aku menyadari bahwa aku tidak setegar aku dan menjadi melankolis dihadapan mamaku. Mamaku berkata dan meminta maaf karena tidak punya banyak waktu dulu untuk bersamaku dan memanjakanku. Keadaan ekonomi yang membuat mamaku harus pontang-panting cari uang kesana kesini demi membantu bapakku membiayai hidup kami anak2nya. Mamaku menyadari dan menyesali bahwa itu membuat seorang aku menjadi pribadi yang tertutup (meskipun ceria). Mendengar pengakuan itu, spontan aku memeluk mamaku, dan kami menangis bersama dalam pelukan. Aku tau beban dan perjuanganmu, Ma. aku tidak menyalahkanmu, aku tidak menuntutmu lebih, aku bahkan bangga punya mama hebat seperti mama. Aku hanya ingin bisa se-tegar dan se-kuat mama. Mama tidak pernah mengeluh, mama tidak pernah merasa capek, mama selalu nampak ceria, mama hebat mengatur ini itu, dan mama orang yang luar biasa buatku.
Semakin aku menceritakan ini, semakin deras airmataku mengalir.
Intinya, momen aku dan mamaku ini sangat membekas indah di pikiranku. Ada perasaan lega yang luar biasa, ketika kaku menjadi karib, ketika kikuk menjadi akrab. Setiap saat kami berdoa bersama, mama pegang tanganku dan mendoakan agar aku segera menjadi seorang 'mama', mama yang hebat, mama yang kuat, mama yang tangguh, mama yang sabar, mama yang pintar, dan mama yang karib dengan Tuhan. Ini suatu sejarah Tuhan, luar biasa anugrahMu dan aku sangat berterimakasih.
3 hari 2 malam di pulau ini membawa kami bernostalgia ria. Kami menyewa motor dan aku membonceng mamaku kemana dia suka. Ke tempat teman2nya dulu, ke tempat makan2 enak dulu, ke rumah kami yang dulu, ke sekolahku dulu, ke tempat mamaku bekerja dulu dan juga ke Cemetery di jl. Koba - dimana adikku dulu dimakamkan disini, dulu 26 tahun yang lalu, ketika usianya 3 tahun. Berkunjung kesini membuat ingatan bertahun silam datang kembali, yang membuat airmata deras mengalir seiring mendung yang menemani kami. Kehilangan anak itu bukan perkara yang mudah untuk dilupakan, kata mamaku. 26 tahun berlalu, tapi seperti baru kemarin. "Cinta mama sama kalian semua sama Nak, termasuk untuk adikmu yang sudah lama tidur disini - tapi rohnya bersama Bapa di sorga" ucap mamaku, sambil membersihkan rumput diatas makam adikku. Sedih.
Tak terasa, di hari ke-3 pun kami harus segera kembali ke Jakarta, dan mamaku lanjut terbang ke Medan. Kami sama-sama saling mengucap syukur untuk saat indah yang sudah kami lalui, dan mengimani ketika 2-3 orang sehati berkumpul bersama, berdoa dan meminta, yakinlah doamu pasti akan dikabulkan oleh Tuhan seturut waktuNYA.
What a memorable birth land story. Pulau Bangka-ku, tempat kelahiranku, kota masa kecilku, tempat perjuangan orangtuaku, dan kota berkat buatku. Dari sini aku belajar, jika aku nanti menjadi mama, aku harus bisa se'kuat' mama, dan dekat dengan anak2ku sehingga aku bisa menopang mereka - seperti yang dilakukan mama kepadaku. Terima kasih Ma, i love you.